Kamis, 31 Januari 2013


‘Jambo Nyoe, Teumpat Kamoe Meurunoe Agama’


Jika anda penikmat lagu Aceh, mungkin anda mengenal nama Liza Aulia. Ya, dia adalah dara Aceh yang melejit namanya lewat lagu Kutidhieng, lagu yang konon kabarnya berlirikkan mantra-mantra untuk memanggil rimueng aulia (harimau aulia).
Kuthidieng, Seulayang, Jambo Nyoe, Hikayat Putroe Bungsu adalah sederet judul-judul lagu aceh yang pernah dinyanyikan oleh Liza Aulia.
Liza Aulia adalah penyanyi yang memiliki penjiwaan yang baik dalam manyanyikan lagu-lagunya. Penjiwaan Liza Aulia dalam menyanyikan lagu-lagunya, mampu memainkan emosi para pendengar sehingga tidak heran jika Lagu-lagu Liza Aulia mendapat tempat tersendiri di hati para penikmat musik pada masyarakat Aceh.
Anda pasti bisa merasakan galaunya Liza ketika menyanyikan lagu seulayang. Kegalauan yang terpancar dari lirik dan nada-nada lagu seulayang itu, telah menghanyutkan perasaan anda seolah anda sedang mengalami kesedihan yang sama seperti yang di alami Liza dalam lagu seulayangnya.
Saat Liza menyanyikan lagu Hikayat Putroe Bungsu yang liriknya bercerita tentang kejahilan Teuku Malem Diwa yang mencuri pakaian Putroe Bungsu, anda juga dapat merasakan sensasi asmara yang sedang dialami oleh Teuku Malem Diwa dan Putroe Bungsu, karena Liza membawakannya dengan nuansa sedikit manja dan teukecak (genit-red).
Ketika Liza menyanyikan Jambo Nyoe, anda akan mengetahui dan merasakan betapa takzimnya anda terhadap sosok tengku yang dengan ikhlas tanpa pamrih mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada anak-anak dan masyarakat yang ada pada masa dulu.
Aransemen musik dari lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Liza Aulia dikemas lebih modern, namun belum meninggalkan nuansa etnik keacehannya, buktinya kita masih bisa mendengarkan Serunekalee, alat musik tradisional Aceh di beberapa lagu yang di nyanyikan oleh Liza Aulia. Liriknya pun sarat makna, umumnya bercerita tentang budaya, hikayat-hikayat, kearifan lokal, yang semua itu bernafaskan dari niliai-nilai Islam yang dianut masyarakat Aceh pada masa itu.
Jika lagu-lagu ini di dengar, maka kita seolah sedang di bawa jauh kembali ke kehidupan puluhan tahun bahkan ratusan tahun yang silam, menggambarkan sebuah kondisi kehidupan yang indah, santun, ramah dalam batasan, penuh dengan kearifan, persaudaraan yang kuat, kaya dengan peradaban dan kental akan nuansa keimanan, di saat di mana islam masih menjadi nafas dari segala aktifitas kehidupan kala itu.
Komposisi lirik lagu yang sarat makna, di kompilasi dengan bit-bit nada melalui instrument musik etnik dan modern, membuat lagu-lagu yang di nyanyikan oleh Liza Aulia cukup memiliki karakter. Oleh karena itu, ketika lagu ini di dengarkan, maka tidak heran jika akan memberi bekas dan kesan yang mendalam bagi para pendengar, apalagi bagi mereka yang paham dengan artinya. Setiap kata dari lirik lagu ini dan bit-bit nada yang mengirinya, seolah menjadikan para pendengar larut, tengelam jauh dalam ekstase harmoni nyanyian merdu sang diva, Liza Aulia.
Kali ini kita tidak membahas lebih jauh lagi tentang siapa Liza Aulia, atau bagaimana style musik yang di nyanyikan oleh Liza Aulia, atau benarkah kuthiding itu adalah mantra-mantra untuk memanggil rimueng aulia, namun kali ini kita akan mencoba me-review ulang kondisi masyarakat aceh pada masa lalu, dengan fokus tengku (guru agama) dan generasi-generasi pada masa itu serta kondisi masyrakat saat itu, lewat lirik lagu Liza Aulia Jambo Nyoe. Berikut lirik lagunya.
Meuho kah tengku, oh tengku
nyang poe jambo nyoe, jamboe nyoe
izin keu kamoe wahei tengku
kamoe jak gisa keunek meujak woe (2X)

Meulebeuh saba peumeuah wareh
Kadang cit meupaleng nyoe teungke teuka
Sang weuh that wareh hana ilme
Peugah hai tengku pat-pat teumeurah (2X)

Reff
Ciekah meulapeh lam jamboe ubiet
Tempat seumebeut alem ulama 
Tempat kamoe meurunoe agama
Beuamai keu bekai dudoe (2x)

Meuho kah tengku, oh tengku
nyang poe jambo nyoe, jamboe nyoe
izin keu kamoe wahei tengku
kamoe jak gisa keunek meujak woe (2X)

Lam saboh jurong na binteng pageu
Duroe meunaleng bineh u teungoh
Iklah that hatee bah pih lam ujeun
Aleuh meulinteng kamoe jeumurang (2X)

Seumaot tengku pakon neususah
Kalon syeudara tan na ilme
Wahai hai rakan meureunoe beusiegra
Beuamai keu bekai dudoe (2x)

Secara umum lirik lagu Liza Aulia ini bercerita tentang para murid dan tengkunya (guru agamanya), lagu ini menceritakan tentang sabar dan iklasnya seorang tengku dalam mengajarkan murid-muridnya.
Lagu ini coba menghantarkan kita kembali ke kehidupan masyarakat Aceh masa lalu, dan melihat kondisi sosial masyarakat pada masa itu. Masyarakat pada masa itu sangat memperhatikan pembelajaran ilmu agama bagi anak-anak mereka dan tengku merupakan elemen penting dalam tatanan masyarakat masa itu.
Jamboe (balai), rangkang, meunasah merupakan episentrum aktifitas masyarakat masa itu, di tempat inilah masyarakat menimba ilmu, bermusyawarah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan gampong (desa) dan tempat menjalankan ibadah-ibadah seperti shalat berjamaah dan lainnya.
Peran tengku dalam tatanan kehidupan masyarakat pada masa itu sangatlah vital, tengku tidak hanya berperan sebagai guru tempat belajar berbagai macam ilmu agama, akan tetapi tengku juga telah menjadi tempat mengadunya umat terhadap segala macam problematika kehidupan yang mereka alami.
Peran tengku di masyarakat ini tidak terlepas dari sosok tengku sebagai pribadi yang begitu istimewa. Orientasi akhirat yang kuat, pemahaman yang tinggi terhadap ilmu agama, dan ketaqwaan yang lahir dari pemahaman agama yang di miliki, menjadikan tengku-tengku pada masa itu adalah pribadi-pribadi yang menawan, orang-orang yang sangat iklas dan punya kapasitas dalam memberikan pandangan terhadap berbagai persoalan yang di hadapi umat.
Pengorbanan tengku dalam mengajarkan dan mendakwahkan islam di tengah-tengah umat tidak di ragukan lagi, tengku adalah manusia-manusia yang iklas dalam mengemban tugasnya sebagai ulama pewaris para nabi, yang keberlangsungan pemahaman umat terhadap Islam ada di tangannya, maka tidak heran jika di dalam lagu di atas di sebutkan bahwa dalam menjalankan aktifitasnya sebagai guru yang mengajarkan Islam ke tengah-tengah umat, tengku tidak menghiraukan berbagai rintangan yang di hadapinya dan lagu itu coba mendeskripsikannya dengan kata-kata Iklah that hatee bah pih lam ujeun(Iklas sekali hati meskipun dalam hujan-red) sebuah deskripsi untuk menggambarkan keiklasan tengku dalam mengemban tugas-tugasnya.
Tengku bukan hanya orang-orang yang ikhlas saja, tengku juga adalah orang-orang yang berani,jujur dan berterus terang dalam menghukumi segala persoalan sesuai dengan Al-Quran dan Hadist meskipun resikonya pahit di dengar oleh umat ataupun tak disukai oleh penguasa, tengku tetap pada pendiriannya bahwa islam itu harus di sampaikan sesuai dengan sumber hukumnya, apapun resikonya. Sikap tengku inilah yang menjadikan ajaran-ajaran Islam tidak terkontaminasi oleh kepentingan apapun, sehingga nasehat-nasehat ataupun keputusan-keputusan hukum terhadap beberbagai persoalan yang lahir dari tengku, selalu saja sesuai dengan apa yang di tuntukan oleh Al-Qur’an dan Sunnah. Keputusan-keputuan inilah  kemudian, menjadi guiden (petunjuk) bagi umat dalam mejalani kehidupan-kehidupan mereka.
Ketaqwaan yang tinggi, alim, ikhlas, keberanian untuk berterus terang dalam menyampaikan dakwah Islam, amanah, tawadhu’, wara’ dan hal baik lainnya yang melekat pada pribadi tengku, menjadikan ucapan-ucapan yang keluar dari mulut tengku menjadi sebuah keberkahan tersendiri, maka tidak heran jika murid yang di hasilkan oleh tengku pada masa lalu adalah ulama-ulama besar, pemimpin-pemimpin adil, pejuang-pejuang hebat, wanta-wanita mulia yang sejarah mencatat harum nama-nama mereka.
Sejarah pernah mencatat bahwa Aceh puluhan tahun yang lalu pernah melahirkan Teuku Umar, pria pemberani, pejuang heroik yang dengan gagah melawan kafir Belanda. Sikap heroik yang ditunjukkan oleh Teuku Umar tidak lain adalah karena pengaruh pemahaman tentang mulianya mati syahid, mati dalam membela agama Allah. Semangat inilah yang menjadikan teuku umar dan pasukannya sangat gagah di medan pertempuran.
Sejarah juga pernah mencatat Aceh pernah di pimpin oleh sultan-sultan adil, yang menjadikan Islam sebagai landasan dari setiap keputusan yang di ambilnya. Kita pasti masih mengingat salah satu sultan adil itu adalah Sultan Iskandar Muda. Keadilan sang sultan telah terbukti dengan dihukumnya putra sendiri akibat melakukan pelanggaran syariat. Sultan tidak pernah ragu dalam mengambil keputusan sesuai dengan hukum Islam meskipun keputusan tersebut konsekuensinya akan membinasakan darah daging sendiri. Sang sultan lebih mementingkan syariat tegak dibandingkan sayangnya ia terhadap sang anak.
Sejarah juga pernah mengingatkan kepada kita bahwa Aceh pernah melahirkan wanita-wanita hebat dan mulia seperti Keumalahayati atau lebih di kenal dengan Laksamana Malahayati, Laksamana wanita yang tak rela tanah negerinya dan kehormatan negerinya di injak-injak oleh portugis. Kita juga belum lupa dengan wanita lainnya yang bernama Cut Nyak Dhien, wanita yang sudah dalam keadaan buta pun masih semangat melawan kafir penjajah karena semangat jihad yang mengalir dalam darah terlanjur deras, sehingga mata bukan lagi penghalang untuk tetap berjuang sampai titik darah penghabisan.
Mereka adalah sederetan nama yang lahir berkat keberkahan dari nasehat-nasehat dan ajaran-ajaran islam oleh tengku-tengku yang iklas di masa lalu. Mereka adalah generasi-generasi unggulan yang pernah lahir di tengah-tengah umat dengan keyakinan islam yang kuat dalam diri mereka.
Jika kita kembali ke kehidupan sekarang, kita tidak lagi menemukan seperti apa yang kita temukan di masa lalu. Jika di masa lalu jamboe, rangkang ataupun meunasah adalah tempat pusat aktifitas masyarakat, maka sekarang tidaklah lagi demikian. Masyarakat sekarang lebih senang ke café-café duduk kongkow-kongkow dengan teman sekerabat, manghabiskan waktu sia-sia di bandingkan ke jamboe-jamboe pengajian untuk belajar ilmu agama dengan tengku.
Pergeseran nilai-nilai kehidupan sangat tampak di tengah-tengah masyarakat kita saat ini, akibat pergeseran nilai dan pola kehidupan inilah yang mengakibatkan kita tidak bisa menemukan lagi orang-orang semasa jaman dahulu, seperti Teuku Umar yang berani membela agama dan negeri kaum muslimin dari rebutan kaum penjajah, yang ada sekarang ini adalah hanya Teuku-Teuku pengecut, apatis, bermental hipokrit yang pandainya bergaya di depan wanita, “abang kaya dek nong”.
Kita juga tidak bisa lagi menemukan wanita-wanita mulia yang menjaga kehormatan dirinya dan saudara-saudaranya seperti yang ditampakkan oleh sosok Keumalahayati, Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia. Saat ini yang kita temukan hanya Mala-Mala dan Cut-Cut hina yang berbaju ketat, senang di bawa kemana-kemana setiap sorenya oleh Teuku-Teuku yang pandai bergaya. Mala-Mala dan Cut-Cut saat ini pun senang bukan kepalang jika ada di antara Teuku-
Teuku yang rela menjadi tukang ‘ojek’ untuk antar jemput mereka dari sekolah maupun kuliahan. Orang tua jaman sekarangpun seolah tidak pernah mempermasalahkan perilaku Mala dan Cut yang senang di bawa-bawa, yang penting mereka punya asumsi bahwa masyarakat akan beranggapan bahwa anaknya cantik, sekarang sudah ‘laku’, dan bahkan banyak diantara Teuku-Teuku yang berburu untuk mendapatkan hati dari putri mereka, Mala.
Kita juga tidak bisa menemukan sosok pemimpin yang adil, serius terhadap penegakan hukum syariah seperti yang di tampakkan oleh Sultan Iskandar Muda ketika memerintah negeri ini dimasa lalu, yang ada hanya pemimipin hipokrit, mementingkan diri sendiri, yang dengan kekuasaanya dapat memainkan hukum demi kepentingan ia dan segelintir orang yang dekat dengan dirinya. Pemimpin yang pandai berdeklamasi dengan retorika-retorika basi yang tidak ada arti sama sekali bagi masyarakat dan nihil prestasi apalagi prestasi mensejahterkan rakyat.
Kegagalan dalam mengahasilkan generasi-generasi unggulan saat ini apakah disebabkan hilangnya keberkahan dari ucapan-ucapan tengku dalam mengajarkan ilmu-ilmu agama di tengah-tengah umat?. Wallahu a’lam. Namun yang pasti, saat ini peran tengku di tengah-tengah umat sangatlah kecil bila di bandingkan dengan peran tengku di masa lalu dan pengaruh tengku juga tidak sebesar pengaruh tengku yang ada di masa lalu.
Peran tengku di masa sekarang telah bergeser dari peran yang seharusnya seperti di masa lalu. Peran tengku di masa sekarang hanya sebatas mengisi acara-acara ritual keagamaan saja seperti ngurusi jenazah, memimpin samadiah(tahlilan), baca doa, dan menjadi khatib ceramah-ceramah di mesjid, sangat berbeda dengan yang terjadi di masa lalu di mana tengku adalah orang yang paling berpengaruh di tengah-tengah umat, dan pendapat-pendapat tengku terhadap berbagai persoalan menjadi referensi bagi umat dan penguasa dalam bertindak dan mengambil keputusan.
Peran tengku yang kecil ini tidak lepas dari pengaruh sekulerisme dalam tatanan masyarakat kita saat ini, yang coba memisahkan agama dari kehidupan. Sekulerisme telah mendudukkan tengku di masyarakat lebih rendah dari yang seharusnya. Dalam pandangan sekulerisme, menganganggap agama tidak mampu dan tidak perlu ikut campur terhadap permasalahan kehidupan, agama kedudukannya hanya sebatas ritual antara tuhan dengan makhluknya. Wajar saja jika di tengah masyarakat sekuler tengku menjadi kecil perannya hanya dilibatkan sebatas ritual keagaaman saja, sedangkan jika di hadapkan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kehidupan antar makhluk seperti muamalah, politik, pemerintahan, mereka menganggap tengku yang setiap pendapatnya bersumber dari syariat-syariat Islam, di anggap tidak punya kapasitas bebicara dan berpendapat dalam hal ini.
Sekulerisme adalah penyakit yang harus di hilangkan di tengah-tengah umat, penyakit inilah yang menyebabkan kita gagal dalam menelurkan generasi-generasi hebat seperti masa lalu, dan sudah saatnya tengku kembali tampil maju kedepan, ketengah-tengah umat dan kembali menjadi tengku seperti layaknya tengku di masa lalu, yaitu tengku yang dicintai umat dan didengar oleh umat.
Jambo tempat meuruno agama (balai pengajian) seharusnya kembali ramai dan menjadi pusat aktifitas masyarakat lagi seperti  jaman dahulu, dan tengku harus kembali menjadi tempat umat bertanya terhadap berbagai persoalan yang di hadapinya dengan solusi-solusi islam jitu yang keluar dari mulut tengku.
Wallahu a’lam bis shawab
Oleh : Yusuf Zulkifli, S.Fil.I, MA.

Tidak ada komentar:

Grab This